Teknologi IPAT di Magelang

Masalah kerusakan saluran irigasi teknis tersier di berbagai kawasan memang cukup memprihatinkan. Kebocoran saluran akan membawa dampak pada kerusakan tanaman padi dan pemborosan penggunaan volume air. Hal ini juga terjadi di Kab. Magelang Jawa Tengah.

Akan tetapi dengan teknologi baru proses irigasi yang dinamai dengan IPAT (Intensifikasi Padi Aerob Terpadu), maka cukup mengatasi permasalahan ini. Teknologi IPAT menekankan pada pemberian air untuk padi yang tidak menggenang, namun hanya mengalirkannya pada saluran-saluran air yang dibuat dipinggir dan membelah petakan dengan jarak berkisar 3-4 meter.

Lahan pertanaman padi hanya dialiri air apabila lahan mulai mengering atau mulai menampakkan permukaan yang merekah kecil-kecil. Air pun hanya dialirkan ke saluran-saluran air yang dibuat dipinggiran tadi dan hanya dibiarkan menggenai permukaan beberapa jam saja. Setelah semuanya basah, air pun dibuang dan hanya tersisa disaluran air saja. Dengen demikian, air dapat dimanfaatkan oleh petani dengan petakan sawah yang berada lebih rendah.

Dengan IPAT, maka debit air dapat digunakan untuk dua sampai tiga kali luas lahan yang biasanya. Hal ini telah dimanfaatkan oleh para petani di Magelang terutama kawasan yang memang relatif kurang air. Serta yang saluran irigasi tersiernya mengalami masalah. Sehingga dengan IPAT akan dihemat air dan sekaligus mencegah kerusakan tanaman padi karena kebanyakan genangan air. Salah satu kawasan yang memanfaatkan ini adalah di kawasan Desa Senden Kecamatan Mungkid Magelang. Para petani disana telah beberapa lama memanfaatkan teknologi ini.